Jakarta-24 Februari 2009 (IRIN)  –   Isra Safril dan temannya pergi ke Idi Rayeuk, kecamatan di Timur Aceh daerah, di atas 20 Februari untuk memberi bantuan ke pejabat sebesar Rp5,1 juta (US$428). Sumbangan tersebut mereka berikan untuk 198 pengungsi Rohingya yang tinggal di tenda di kompleks pemerintah daerah. 

Isra adalah seorang anggota Aceh Blogger Community, yang sudah menghabiskan dua minggu yang lalu untuk mengumpulkan uang bagi pengungsi. Dari 11 hingga 13 Februari, 20 orang sukarelawan dari Komunitas Pengguna Linux Indonesia Aceh (Linux Users’ Community di Aceh) dan Amiki Student kelompok-kelompok, yang ditempatkan sepanjang jalan raya di Banda Aceh kota dengan kotak-kotak, meminta sumbangan dari pengendara. 

“Dana bantuan ini bagi pengungsi  Rohingya tidak hanya karena solidaritas sesama muslim saja, namun karena rasa  solidaritas dengan sesama umat manusia,” Isra kepada IRIN. “Kami tidak melihat etnik mereka,  keturunan, dan agama maupun aliran,”.

Kelompok itu selain turun ke jalan, juga melakukan kampanye  di blogs dan Facebook, dengan  mengangkat keadaan kelompok dari Myanmar, menurut duagaan tertindas di negara mereka sendiri dan dikeluarkan serta ditemukan  hanyut.

Sejak pengungsi tiba dengan dua kapal kapal, mereka sudah dipeluk oleh orang Aceh. Di Sabang, di mana tumpukan pertama sebanyak 193 itu sudah tinggal sejak mereka kandas pada Januari awal dekat Pulau Weh, pulau terluar dari ujung paling utara Aceh, Walikota Sabang, Munawar Liza Zainal mengatakan  pengungsi dalam keadaan sehat dan baik.

“Kami sudah memberi mereka dapur umum untuk mereka memasak sendiri. Kami sudah menyediakan padi, sayur dan sarden,” kata Munawar kepada IRIN, pihaknya mengakui organisasi asing dan internasional, termasuk Organisasi Internasional untuk Migrasi (IOM) dan Jesuit Refugee Service, membantu  persediaan. 

Walikota menambahkan pengungsi sering berlari dan bermain sepak bola. “Mereka baik dan sehat. Hanya satu masih di rumah sakit dengan TBC,” kata Munawar, tambahnya, berlawanan dengan laporan bahwa pengungsi dipagari dalam pangkalan angkatan laut, mereka tinggal di tenda di samping pelabuhan, dengan banyak angkasa. Mereka, tetapi tidak dibenarkan masuk ke publik dan media. 

Nasruddin Abubakar, wakil Bupati Aceh Timur, mengatakan ke-198 yang tiba pada 3 Februari sekarang tinggal di Idi Rayeuk, di mana semua keperluan mereka, termasuk pengobatan bagi satu orang dengan malaria dan sesuatu dengan ayan, ditanggung oleh pemerintah daerah. 

“Kementrian Luar Negeri masih mengolah kasus mereka. Tim bersama dari kementerian dan IOM mewawancarai masing-masing dari mereka dan kembali ke Jakarta untuk menilai kasus mereka,” kata Munawar.

Pemerintah sudah mengatakan akan mengangkat persoalan Rohingya selama Proses Bali, forum 50 negara yang diluncurkan pada 2002 dan diketuai oleh Indonesia dan Australia, untuk mengadvokasi perdagangan manusia di kawasan Asia. Pembicaraan berikutnya, akan dilaksanakan pada Juni ke awal Maret atau April, dimana akan difokuskan pada persoalan Rohingya, sehingga dapat dibicarakan pada puncak konferensi di Hua Hin, Thailand, antara 27 Februari dan 1 Maret. 

jd/bj/mw (http://www.irinnews.org/Report.aspx?ReportId=83120)

Iklan