Pendahuluan

Perjuangan wanita dan kancah peperangan telah memberi warna tersendiri dalam sejarah  perjuangan Aceh. Sederetan nama muncul seperti Laksamana Malahayati, Cut Nyak Dhien, Cut Nyak Meutia, Pocut Baren dan pejuang wanita lainya. Peran mereka sangat besar, tak pernah ada rasa takut gentar mendampingi suami ke medan perang,meskipun melintasi hutan yang penuh marabahaya di dalam hutan belantara terkadang mereka harus menahan lapar dan dahaga namun semangat mereka tidak pernah sirna dalam membela tanah air dan agama.

Baca entri selengkapnya »

Iklan

Cut Nyak Dhien

Cut Nyak Dhien (ejaan lama: Tjoet Nja’ Dhien, Lampadang, Kerajaan Aceh, 1848 – Sumedang, Jawa Barat, 6 November 1908; dimakamkan di Gunung Puyuh, Sumedang) adalah seorang Pahlawan Nasional Indonesia dari Aceh yang berjuang melawan Belanda pada masa Perang Aceh. Setelah wilayah VI Mukim diserang, ia mengungsi, sementara suaminya Ibrahim Lamnga bertempur melawan Belanda. Ibrahim Lamnga tewas di Gle Tarum pada tanggal 29 Juni 1878 yang menyebabkan Cut Nyak Dhien sangat marah dan bersumpah hendak menghancurkan Belanda.

Baca entri selengkapnya »

Abdullah bin Jahsy r.a adalah anak kepada ibu saudara Rasulullah SAW, Umamah binti Abdul Mutallib dan juga ipar kepada Rasulullah SAW kerana Rasulullah SAW mengahwini saudara perempuannya Zainab binti Jahsy r.a.

Baca entri selengkapnya »

(Petikan dari Abul Hassan ali Nadawi, Saviors of Islamic Spirit)

Salahuddin dibesarkan sama seperti anak-anak orang Kurd biasa (Poole, 1914). Pendidikannya juga seperti orang lain, belajar ilmu-ilmu sains di samping seni peperangan dan mempertahankan diri. Tiada siapapun yang menjangka sebelum ia menguasai Mesir dan menentang tentera Salib bahawa anak Kurd ini suatu hari nanti akan merampas kembali Palestin dan menjadi pembela akidah Islamiah yang hebat. Dan tiada siapa yang menyangka pencapaiannya demikian hebat sehingga menjadi contoh dan perangsang memerangi kekufuran sehingga ke hari ini.

Baca entri selengkapnya »

Oleh: Ustadz Ahmad Syarwat, Lc

Ada begitu banyak analisa para pemikir dan pengamat tentang sebab-sebab jatuhnya khilafah Turki Utsmani pada tahun 1924. Baik yang bersifat lebih teknis maupun sebab-sebab yang bersifat lebih umum.

Sebab-sebab secara teknis kita serahkan kepada para ahli sejarah, terutama sejarah Turki sendiri. Sedangkan yang akan kita bahas di sini adalah sebab-sebab secara umumnya saja. Baca entri selengkapnya »

Isra Safril – Opini

http://www.serambinews.com/news/view/39742/satu-tahun-satu-qanun

Aceh bukan saja telah mengubah situasi dan kondisi kehidupan sosial masyarakat Aceh secara keseluruhan, tetapi juga telah melahirkan dinamika politik yang baru. Bukan hanya pada ranah eksekutif tetapi juga terasa pada ranah representatif rakyat di parlemen.

Melalui Pemilu yang diselenggarakan pada 9 April 2009 lalu, parlemen tingkat provinsi yakni Dewan Perwakilan Rakyat Aceh (DPRA) periode 2009-2014 juga telah terpilih. Mereka adalah wakil-wakil yang dipercayakan oleh rakyat untuk mengemban tugas dalam kurun lima tahun mendatang sejak pelantikan.
Baca entri selengkapnya »

Minggu, 8 Agustus 2010 – 09:38 wib

BANDA ACEH – Miris sekali nasib Dewi Susanti (15). Sepanjang usianya, remaja piatu korban tsunami itu kerap menjalani hidup di toilet rumahnya.

Gadis asal Desa Baro Dusun Meulinteung, Kecamatan Jaya, Kabupaten Aceh Jaya itu mengindap keterbelakangan mental (Syncope Sindrome). Karena sering memukul teman sebayanya dan buang air besar sembarangan, keluarga terpaksa mengurung Dewi di toilet rumahnya. Baca entri selengkapnya »

Mon, Aug 2nd 2010, 15:53

BANDA ACEH – Kinerja para anggota Dewan Perwakilan Rakyat Aceh (DPRA) hasil pemilu 2009 kembali mendapat sorotan tajam dari para aktivis lembaga swadaya masyarakat (LSM). Para anggota Dewan yang telah 10 bulan dilantik dinilai masih sibuk dalam urusan pribadi dan kelompok, sehingga hajat hidup orang banyak belum dibicarakan secara maksimal.

Pendapat ini disampaikan Koordinator Masyarakat Transparansi Aceh (MaTA) Alfian dan Kepala Divisi Kajian dan Advokasi Kebijakan Publik Gerakan Anti Korupsi (GeRAK) Aceh, Isra Safril, menjawab Serambi, Minggu (1/8) terkait refleksi 10 bulan tugas anggota dewan Aceh hasil pemilu 2009.
Baca entri selengkapnya »

Kamis, 22 Juli 2010

Banda Aceh – Kegiatan perjalanan keluar negeri yang dilakukan oleh Anggota Dewan Perwakilan Rakyat Aceh (DPRA) yang tergabung dalam Kelompok Kerja (Pokja) telah melangkahi dan menyalahi Undang-undang Nomor 27 Tahun 2009 tentang MPR, DPR, DPD dan DPRD, sebab kunjungan tersebut bukan merupakan tugas dan kewenangan yang harus dilakukan oleh mereka.

Demikian disampaikan oleh Kepala Divisi Kajian dan Advokasi Kebijakan Publik GeRAK Aceh, Isra Safril dalam rilisnya yang diterima The Globe Journal, Rabu (21/7) di Banda Aceh. Menurutnya UU tidak mengenal adanya kelompok kerja apalagi kelompok DPRA yang berangkat tersebut tidak diputuskan dalam rapat paripurna. Baca entri selengkapnya »

BANDA ACEHA ( Berita ) : Gerakan Anti-Korupsi (GeRAK) Aceh mendesak pihak-pihak berkompeten dalam pengawasan anggaran negara untuk melakukan audit investigatif terhadap dana abadi pendidikan Aceh. “Kami sudah menyurati lembaga pengawas untuk menelusuri dana abadi pendidikan Aceh dengan audit investigatif,” kata Kadiv Kajian dan Advokasi Kebijakan Publik GeRAK Aceh, Isra Safril di Banda Aceh, Selasa[29/06].

Baca entri selengkapnya »

I S R A .. I L

Tulisan Teratas

Blog Stats

  • 12.919 hits

Klik tertinggi

  • Tidak ada
Juni 2019
S S R K J S M
« Apr    
 12
3456789
10111213141516
17181920212223
24252627282930

Support

Iklan