Mon, Aug 2nd 2010, 15:53

BANDA ACEH - Kinerja para anggota Dewan Perwakilan Rakyat Aceh (DPRA) hasil pemilu 2009 kembali mendapat sorotan tajam dari para aktivis lembaga swadaya masyarakat (LSM). Para anggota Dewan yang telah 10 bulan dilantik dinilai masih sibuk dalam urusan pribadi dan kelompok, sehingga hajat hidup orang banyak belum dibicarakan secara maksimal.

Pendapat ini disampaikan Koordinator Masyarakat Transparansi Aceh (MaTA) Alfian dan Kepala Divisi Kajian dan Advokasi Kebijakan Publik Gerakan Anti Korupsi (GeRAK) Aceh, Isra Safril, menjawab Serambi, Minggu (1/8) terkait refleksi 10 bulan tugas anggota dewan Aceh hasil pemilu 2009.

Sebelumnya, kritik serupa juga dilontarkan oleh Kepala Divisi Hak Sipil dan Politik Koalisi NGO HAM Aceh, Zulfikar Muhammad. “Selain mengabaikan tugas dan fungsi bersifat wajib, yakni melahirkan qanun/aturan-aturan daerah, lembaga DPRA juga telah mengabaikan hak konstitusional warga negara sebagai satu kesatuan dari hak asasi manusia yang harus dijamin,” tulis Zulfikar dalam siaran persnya kepada Serambi Selasa (27/7) lalu.

Setelah Koalisi NGO HAM, kini giliran aktivis dari MaTA dan GeRAK Aceh melontarkan kritiknya terhadap kinerja para anggota DPRA. Koordinator MaTA, Alfian menilai, sisi lemah anggota DPRA yang dilantik pada (30/9) 2009 adalah pada proses penganggaran yang belum peka terhadap kebutuhan masyarakat korban konflik, perempuan, masyarakat miskin dan bantuan keuangan untuk peumakmu gampong (BKPG).

Faktor yang lebih dominan dalam penggangaran, sebut Alfian, adalah plot dana untuk program aspirasi yang merupakan kerja eksekutif. “Tidak adanya plot dana untuk BKPG menciderai rasa keadilan masyarakat,” ujarnya. Dari segi legislasi, ujar Alfian, peran anggota dewan juga masih tumpul. Hingga menjelang setahun bekerja baru disahkan qanun APBA, sedangkan raqan lain masih belum selesai dibahas. “Legislasi DPRA belum maksimal,” ujarnya.

Kekurangan lain ulas Alfian terlihat pada lemahnya pengawasan terhadap kinerja eksekutif. Kondisi ini terjadi akibat minimnya pengetahuan mayoritas anggota dewan terhadap mekanisme birokrasi pemerintahan. Faktor lain yang bermuara pada tumpulnya pengawasan adalah danya dana (program) aspirasi bagi masing-masing anggota dewan. “Ini tentunya berbahaya bagi tugas dewan,”

Pendapat senada juga diungkap Isra Safril dari GeRAK Aceh. Menurut dia, para anggota Dewan periode ini belum menunjukan kerja maksimal di bidang legislasi dan anggaran. Ia bahkan menilai, Dewan mementingkan kebutuhan pribadi dalam bentuk kunjungan kerja ke luar negeri, menerima tunjangan sewa rumah tanpa mau mempercepat proses penyelesaian fasilitas rumah dinas, serta belum menghasilkan qanun sebagaimana prioritaskan tahun 2010. “Masa kerja untuk 2010 tinggal sekitar 5 bulan lagi. Seharusnya dewan peka terhadap kebutuhan masyarakat serta pengawasan terhadap program yang dijalankan pemerintah Aceh,” ujarnya.

Diperlukan
Dihubungi secara terpisah, Wakil Ketua DPRA, Amir Helmi menilai, kritikan aktivis ini sangat positif untuk memacu kinerja Dewan. Namun Amir Helmi menyatakan belum sepakat kalau kinerja dalam bidang legislasi diukur sekarang sebelum masa satu tahun bekerja. “Idealnya penilaian diberikan pada Desember,” ujarnya.

Menurut politisi dari Partai Demokrat, DPRA terus bekerja untuk mencapai hasil maksimal. Penilaian terhadap efektifitas kerja dewan yang belum maksimal, ujar Amir Helmi suatu hal yang tidak bisa dihindari apalagi tugas komisi yang kadang-kadang harus pergi ke luar daerah. Namun, ujarnya, dewan sifatnya kolektif sehingga sebuah hal untuk kepentingan rakyat bisa dibahas oleh anggota dewan lain. “Dari sisi kegiatan dewan masih wajar dan masing-masing melaksanakan tugas secara baik,” katanya.

Adapun penilaian dana aspirasi bisa menumpulkan pengawasan dewan terhadap kerja eksekutif, Amir Helmi menyatakan tidak demikian. Program aspirasi, ujar Amir Helmi, merupakan bagian dari program keseluruhan yang tercantum dalam APBA sehingga wajib diawasi. Program ini muncul dari usulan masyarakat serta dimasukkan dalam SKPA. Program ini dilaksanakan oleh SKPA bersangkutan sehingga tidak luput dari pengawasan, ujarnya.(swa)

http://www.serambinews.com/news/view/36314/lagi-lsm-sorot-kinerja-dpra